Siapa yang tidak pernah merasakan perasaan sedih?. Sedih adalah respon emosi yang wajar ketika sesorang menghadapi masa-masa sulit. Namun di sinilah titik dimana seseorang harus berhati-hati. Rasa sedih yang berkelanjutan dan makin menjadi dapat berujung pada depresi.

Deperesi merupakan penyakit yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun wanita lebih rentan dua kali lipat terhadap penyakit mental ini dibandingkan pria, mengapa?

Wanita berisiko dua kali lipat untuk mengalami depresi daripada pria

Depresi ditandai dengan memburuknya suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya yang setidaknya berlangsung berkelanjutan selama enam bulan bahkan lebih. Depresi sangat dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Perubahan suasana hati yang diakibatkan oleh depresi dapat menimbulkan perasaan keputusasaan, kebingungan serta ketidakberdayaan. Bahkan depresi dapat menyebabkan kematian.

Depresi merupakan salah satu penyakit mental yang paling banyak terjadi di masyarakat. Akan tetapi, depresi pada wanita bisa dua kali lipat lebih tinggi ketimbang pria. Depresi pada wanita biasanya terjadi lebih awal, lebih lama, dan lebih sering kambuh dibanding depresi pada pria.

Wanita Lebih Rentan Terhadap Depresi

Kenapa wanita lebih mudah depresi dibanding pria?

Sebuah studi telah menemukan bahwa perubahan hormon merupakan penyebab utama wanita rentan terhadap depresi. Terkadang depresi juga dapat dipicu oleh sebuah peristiwa dalam hidup yang menimbulkan stres berat.

Sedangkan pada pria, kasus depresi umumnya lebih sering dipengaruhi oleh penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Dibawah ini BantuanSehat akan menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih rentan mengalami depresi dibandingkan pria:

1. Faktor genetik

Riwayat depresi keluarga meningkatkan peluang terjadinya depresi, baik pada pria maupun wanita. Namun, studi menunjukkan bahwa tekanan hidup yang dialami cenderung membuat wanita lebih rentan untuk mengalami stres dan berujung depresi dibandingkan pria. Mutasi genetik tertentu yang berhubungan dengan perkembangan depresi juga hanya terjadi pada wanita.

 

2. Masa puber

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan, baik secara fisik dan psikis. Berkaitan dengan depresi, studi menemukan bahwa sebelum masa puber, anak laki-laki dan perempuan memiliki kecenderung yang sama untuk mengalami depresi. Namun, setelah usia 14 tahun, wanita cenderung dua kali lebih rentan mengalami depresi.

 

3. Menstruasi

Perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan perubahan mood drastis (mood swing) yang seringkali disertai dengan nyeri PMS. Hal ini terhitung wajar. Namun ada bentuk perubahan mood PMS yang lebih parah, disebut dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Wanita yang dilanda PMDD memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami depresi bahkan hingga percobaan bunih diri.

Dilansir dari –WebMD, wanita yang memiliki gangguan ini, umumnya memiliki kadar hormon Serotonin yang sangat rendah. Mood, emosi, pola tidur, dan rasa sakit dikendalikan oleh hormon tersebut. Kadar hormon memang bisa menjadi tidak seimbang menjelang atau selama menstruasi. Akan tetapi, belum jelas penyebabnya kenapa hormon serotonin pada wanita tertentu bisa menurun drastis saat menstruasi.

 

4. Masa kehamilan

Masa kehamilan memang tidaklah mudah, Pasalnya, selama proses tersebut wanita akan mengalami berbagai perubahan mood yang dapat memicu depresi. Perubahan hormon dan genetik dalam masa ini juga membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan mood.

Bahkan setelah melahirkan, wanita juga rentan mengalami Baby Blues dan Depresi Postpartum yang dapat menyulitkan wanita untuk menjalani peran barunya sebagai ibu, termasuk dalam merawat bayinya.

 

5. Masa pre-menopause (menjelang menopause)

Beberapa wanita rentan mengalami depresi setelah proses melahirkan atau selama masa transisi “menuju masa menopause”. Naik-turunnya kadar hormon reproduksi pada tahun-tahun menjelang atau selama menopause dapat memicu gejala depresi pada wanita usia lanjut.

 

6. Pengaruh lingkungan

Faktor lain yang juga dapat membuat wanita rentan depresi adalah faktor lingkungan, terutama terkait peran wanita sebagai ibu, istri, dan anak bagi orangtuanya. Usaha untuk menyeimbangkan ketiga peran tersebut tidak jarang membuat wanita rentan mengalami stres kronis dan berujung kepada depresi

Beberapa studi menunjukkan bahwa wanita mungkin lebih cenderung merenungkan masa lalu, yang baik maupun yang buruk, dibandingkan pria. Ini membuat wanita rentan mengalami gangguan kecemasan.

 

Lalu Bagaimana Cara Mengatasi Depresi Pada Wanita?

Hal yang paling penting adalah fakta bahwa anda tidak perlu malu untuk meminta pertolongan untuk menangani masalah depresi anda. Depresi bukanlah tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter. Seperti halnya penyakit fisik, penyakit mental-pun memerlukan penanganan yang tepat.

Untuk mengobati depresi, anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengobati depresi di antaranya adalah dengan menggunakan obat-obatan antidepresan, atau melalui konseling psikoterapi seperti CBT.

Merubah gaya hidup mejadi lebih sehat dan rutin berolahraga juga dapat membantu meringankan gejala depresi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *