Perubahan ritme detak jantung dapat membuat seseorang tidak nyaman, bahkan merasa ketakutan. Ada beberapa alasan dan kondisi medis yang menyebabkan detak jantung lebih cepat. 

Saat tepat mengecek detak jantung yaitu saat bangun tidur pagi. Tempelkan dua jari, biasanya jari telunjuk dan jari tengah, pada pergelangan tangan selama 15 detik. Hitung berapa detak jantung yang dirasakan, kemudian dikali empat untuk mengetahui detak  jantung per menit. Ini adalah detak jantung dasar atau detak jantung dalam kondisi istirahat.

Detak jantung cepat disebut dengan istilah Takikardia. Ini adalah kondisi yang terjadi karena adanya gangguan impuls listrik yang mengendalikan jumlah rata-rata detak jantung. Seseorang dikategorikan sebagai Takikardia apabila detak jantungnya melebihi 100 kali permenit ketika dalam kondisi sedang beristirahat.

Tidak seperti anggapan masyarakat pada umumnya, detak jantung yang lambat saat istirahat justru menandakan kondisi kesehatan seseorang dalam keadaan baik. Ini menandakan otot jantung dalam kondisi prima, sehingga tidak perlu bekerja terlalu keras. Kecuali detak jantung lambat tersebut disertai beberapa keluhan seperti pusing, sesak napas, atau nyeri dada.

Sebaliknya, ketika detak jantung cepat, berarti jantung bekerja lebih keras dan tidak efisien, sehingga berisiko membuat tubuh tidak memperoleh aliran darah yang mencukupi.

Takikardia bisa muncul tanpa menimbulkan komplikasi, namun bisa juga meningkatkan risiko stroke, gangguan fungsi jantung hingga henti jantung, dan bahkan kematian. Penelitian mengenai detak jantung saat istirahat yang dilakukan selama 10 tahun menunjukkan, risiko kematian lebih tinggi pada partisipan yang mengalami peningkatan detak jantung selama kurun waktu tersebut, dibandingkan yang tetap stabil.

Mengenali Faktor Pemicunya 

Faktor usia sangat memengaruhi ritme detak jantung. Semakin bertambah usia, maka detak jantung pada saat istirahat akan semakin cepat.  Terdapat beberapa faktor pemicu detak jantung cepat lainnya, misalnya olahraga, stres tiba-tiba seperti karena berkelahi, demam, terlalu banyak konsumsi kafein atau minuman beralkohol, efek samping obat, merokok, dan ketidakseimbangan elektrolit pada tubuh.

Selain itu, ada pula kondisi kesehatan tertentu yang dapat menyebabkan detak jantung cepat, contohnya seperti tekanan darah tinggi, anemia, hipertiroid, kerusakan jaringan jantung pada penderita sakit jantung, serta gangguan pola elektrik jantung karena kondisi bawaan sejak lahir.

Detak Jantung Cepat

Cara Penanganan yang Tepat

Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk memperlambat kondisi detak jantung cepat, mencegah terulangnya kembali hal tersebut, dan menekan risiko komplikasi.

Pada sebagian kasus, detak jantung yang cepat dapat melambat hanya dengan dibantu beberapa gerakan sederhana, atau disebut Manuver Vagal. Gerakan seperti batuk, mengejan sebagaimana tengah buang air besar, atau menaruh es pada wajah, dapat memengaruhi saraf vagus yang mengatur detak jantung.

Namun, jika tindakan tersebut tidak berhasil, maka dokter kemungkinan akan memberikan suntikan berisi obat antiaritmia atau obat oral lain untuk menormalkan detak jantung cepat.

Pada kondisi yang dianggap gawat darurat dan obat oral tidak berhasil, maka ahli medis akan melakukan prosedur kardioversi menggunakan alat kejut listrik pada jantung. Tindakan ini diharapkan akan memperbaiki impuls listrik jantung sehingga detak jantung kembali normal.

Beberapa tindakan lanjutan lain untuk mengatasi detak jantung cepat yang berkelanjutan seperti ablasi kateter, penggunaan alat pacemaker, hingga bedah jantung yang memerlukan persiapan dan pertimbangan medis menyeluruh.

Menjaga berat badan ideal dan tetap hidup aktif, sekaligus mengurangi stres dan menghindari rokok merupakan beberapa cara agar jantung tetap sehat dan terhindar dari detak jantung cepat. Konsultasikan dengan dokter terdekat untuk informasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *