Tidak semua orang memiliki fobia, meski pastinya semua orang pernah merasakan takut. Fobia adalah perasaan takut berlebihan, tidak terkendali, ekstrem, dan terkadang tidak masuk akal terhadap suatu situasi maupun objek yang sebenarnya sama sekali tidak mengancam atau bahkan membahayakan nyawa. 

Ketakutan dapat disebut fobia apabila telah berlangsung selama lebih dari 6 bulan dan bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Fobia juga termasuk ke dalam gangguan psikologi yang sebenarnya dapat ditangan dengan terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy).

Desensitisasi adalah sebuah metode dalam CBT yang dapat mengatasi masalah fobia. Bagaimana proses terapi tersebut, dan apakah benar-benar efektif?

Memahami Penyebab Seseorang Mengalami Fobia

Fobia biasanya dipicu oleh satu hal spesifik — bisa objek atau situasi. Ketakutan yang disebabkan Fobia dapat berlangsung lama bahkan dapat memberikan dampat merusak, baik secara fisik maupun mental, berbeda dengan ketakutan biasa yang hanya berlangsung sebentar.

Bagi orang yang memiliki fobia, membayangkan atau memikirkan objek maupun situasi yang ditakuti bahkan dapat membuat mereka pucat, mual, keringat dingin, panik, gemetara, disorientasi, serta cemas berlebihan. Maka dari itu seseorang yang memiliki fobia tertentu akan berusaha sekeras mungkin untuk menghindari pemicu rasa takutnya.

Contoh Fobia yang paling umum adalah Acrophobia (Takut Ketinggian) dan Claustrophobia (Takut tempat yang sempit dan tertutup).

Sampai saat ini, para ahli belum menemukan penyebab pasti dari fobia. Genetik, riwayat kesehatan, dan faktor lingkungan sama-sama dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami fobia. Anak yang memiliki kerabat dekat dengan anxiety disorder juga memiliki kemungkinan untuk mengalami fobia.

Suatu kejadian traumatis juga dapat menyebabkan fobia, seperti misalnya, nyaris tenggelam dapat menyebabkan fobia terhadap air. Pernah terkurung dalam ruangan sempit atau berada di ketinggian ekstrem dalam waktu lama; diserang dan digigit hewan juga dapat menimbulkan fobia. Selain itu, fobia juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami trauma pada otak.

Metode Desensitisasi untuk mengatasi fobia

Desensitisasi, Metode Mengatasi Fobia

Teknik desensitisasi dikenal juga dengan nama teknik paparan. Seperti namanya, Anda akan secara sengaja “dipaksa” untuk dipertemukan dengan pemicu fobia Anda. Prinsipnya, jika Anda kembali dipertemukan dengan pemicu rasa takut yang sama terus-terusan, tubuh akan merespon “teror” tersebut dengan melepaskan hormon-hormon stres yang menimbulkan gejala-gejala fobia.

Para ahli berpendapat bahwa pemaparan terhadap suatu pemicu secara bertahap dan berkelanjutan lama-lama dapat mengurangi sensitivitas seseorang terhadap pemicu tersebut.

 

Prosedur Desensitisasi

Metode desensitisasi merupakan bagian dari terapi CBT yang dilakukan di bawah pengawasan seorang psikiater. Terapi CBT bertujuan untuk mengubah proses pola pikir serta perilaku anda agar menjadi lebih baik.

Tahap awal, Psikiater anda harus mengetahu infromasi dasar mengenai latar belakang diri anda, kebiasaan serta rutinitas, hingga hal-hal seputar fobia anda (sejak kapan fobia muncul, apa pemicunya, gejala yang ditimbulkan, bagaimana anda menghadapinya, dsb). 

Kemudian Psikiater anda akan mengajarkan teknik-teknik relaksasi seperti, teknik pernapasan dalam, self-hypnosis, dan meditasi untuk mengosongkan pikiran agar membuat anda tetap tenang ketika fobia anda muncul,

Selanjutnya, anda akan diminta untuk memberi nilai angka dari terendah hingga paling tinggi untuk mengetahui seberapa takutnya anda terhadap pemicu fobia tersebut. Pemberian nilai  ini juga disituasikan dengan jenis pemicu yang berbeda, agar hasilnya lebih akurat.

Misalnya, berpikir mengenai laba-laba (jika Anda fobia laba-laba, “arachnophobia”) membuat Anda merasa takut dengan nilai 10 sementara melihat foto laba-laba membuat ketakutan Anda jadi bernilai 25, dan jika melihat langsung dari jarak jauh nilainya menjadi 50. Apabila ada laba-laba merangkak di lengan, tingkat rasa takut Anda akan mencapai 100.

Setelah membuat nilai tersebut, psikiater akan mulai sengaja memaparkan Anda terhadap si pemicu fobia tersebut secara perlahan. Dimulai dari yang paling rendah, yaitu meminta Anda untuk membayangkan laba-laba. Sementara anda membayangkan hal itu, ia akan memandu anda untuk memulai teknik relaksasi yang diajarkan.

Setelah Anda terbiasa untuk membayangkn laba-laba tanpa bereaksi berlebihan, kemudian anda akan “naik level”, yaitu psikiater akan meminta anda untuk melihat foto laba-laba, dan begitu seterusnya sampai anda berhadapan langsung dengan laba-laba hidup.

Setiap kali akan “naik level”, psikiater akan lebih dulu menilai perkembangan anda sebelum melanjutkan terapi ke jenjang berikutnya sampai akhirnya anda sudah merasa tidak takut lagi dan terbebas dari fobia.

 

Apakah metode ini aman dan efektif?

Mengatasi fobia tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Sebelum melakukan metode desensitisasi, biasanya anda akan diminta untuk menceritakan masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi untuk mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Setelah itu, Anda dan terapis akan menentukan perubahan apa yang ingin diwujudkan dan tujuan apa yang ingin dicapai.

Pada akhirnya, terapi perilaku dan kognitif CBT dapat membantu Anda menyadari bahwa situasi, benda atau hewan yang anda takuti selama ini ternyata tidak seburuk yang dibayangkan dan tidak membahayakan nyawa.

Teknik ini perlu dilakukan dalam beberapa sesi, hingga akhirnya Anda menjadi terbiasa dan tidak takut lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penggunaan teknik ini ternyata cukup ampuh untuk membantu mengatasi fobia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *